
Jakarta, nondepositbingo Indonesia
—
Pakar Badan Riset dan Inovasi Nasional (
BRIN
) menyebut penyebab
kebakaran
TPA Jatiwaringin tak kunjung padam adalah adanya api yang berada di bawah permukaan. Api ini disebut sulit padam, karena air tidak bisa mencapai wilayah tersebut.
“Yang sulit adalah yang di bawah permukaan, karena oksigenya masih sampai 2 meter itu, nah ini tersembunyi hotspotnya lalu baranya bertahan lama dan air sulit mencapai titik panas, persoalannya di situ,” ujar Wahyu Purwanta, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN dalam acara MELODI (Media Lounge Discussion) BRIN yang disiarkan secara daring, Kamis (10/7).
“Jadi biasanya, kalau yang di bawah permukaan itu ga cukup dibom air dari atas, dia (titik api di bawah permukaan) harus dibantu alat berat,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wahyu menyebut kondisi ini serupa dengan kebakaran lahan gambut di mana api tidak terlihat di permukaan, tetapi asap terus mengepul dari wilayah yang terbakar.
Wahyu menilai setiap TPA memiliki risiko kebakaran, terlebih di musim kemarau yang bisa meningkatkan risiko tersebut.
Menurutnya, risiko kebakaran ini perlu dikenali sejak awal melalui perbaikan operasi, pemantauan kondisi timbunan, pengelolaan gas, deteksi hotspot, pengawasan sumber api, serta kesiapsiagaan yang ditingkatkan pada musim kemarau.
Pada saat yang sama, pemerintah daerah perlu memiliki rencana yang jelas untuk mengurangi jumlah sampah yang harus berakhir di TPA.
Wahyu menerangkan secara ilmiah, kebakaran terjadi ketika tiga unsur bertemu, yaitu bahan bakar, oksigen, dan sumber panas atau penyalaan.
Di area TPA, bahan bakar tersedia dalam jumlah besar berupa sampah yang mudah terbakar, seperti plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, serta material organik yang telah mengering.
Gas landfill, termasuk metana, juga dapat berperan sebagai bahan bakar pada kondisi tertentu. Oksigen tersedia dari udara, termasuk yang masuk melalui permukaan, retakan, dan rongga di dalam timbunan.
“Unsur yang paling sulit dipastikan biasanya adalah sumber penyalaan awal. Secara umum, pemicu dapat berasal dari api terbuka, puntung rokok, pembakaran di sekitar lokasi, benda atau abu panas, maupun sumber panas di dalam timbunan. Namun, untuk suatu kejadian tertentu, termasuk kebakaranTPAJatiwaringin, penyebab spesifik sebaiknya tidak disimpulkan sebelum ada hasil investigasi yang memadai,” tutur Wahyu.
Lebih lanjut, Wahyu mengatakan tidak ada satu teknologi yang tepat untuk semua jenis sampah dan semua daerah.
Pendekatan yang lebih tepat adalah memilih teknologi berdasarkan karakteristik sampah, skala timbulan, kondisi wilayah, kesiapan infrastruktur, pasar produk, serta kemampuan pembiayaan dan pengoperasian jangka panjang.
“Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa teknologi bukan sekadar membeli peralatan. Keberhasilan sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas operasi dan pemeliharaan, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta kepastian pengelolaan produk dan residunya,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa sampah organik dapat dikurangi melalui pengomposan, biodigester atau anaerobic digestion, serta teknologi biokonversi tertentu. Material yang masih bernilai perlu dipilah dan dikembalikan ke rantai daur ulang.
(lom)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video nondepositbingo]
Baca lagi: Gempa Dangkal Kembali Guncang Venezuela, Kini Berkekuatan M6,4
Baca lagi: Komisi III DPR Bentuk Panja usai Febrie Adriansyah Jadi Tersangka
Baca lagi: Prabowo Ingatkan Rakyat Bahaya Sosmed: Percaya Pemimpin yang Kau Pilih



6 Responses
Gak nyangka bakal bahas sedetail ini, salut buat penulisnya! Oh iya, kemarin-kemarin saya juga nemu info yang pas banget ngebahas ginian di https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=95296&picno=34771.
Penjelasan yang sangat menarik dan memberikan perspektif baru buat saya. Terima kasih banyak admin! Kebetulan saya juga nemu info serupa yang dibahas mendalam di http://ojs.ufro.cl/index.php/indoamericana/comment/view/579/0/215923 sebagai referensi tambahan.
Artikelnya ngebantu banget nih buat nambah wawasan, bahasannya rapi dan gampang dimengerti. Buat pelengkap materi, coba deh intip bahasan menarik di https://www.kqed.org/news/10779460/iranian-american-entrepreneurs-want-you-to-taste-the-fruit-of-the-recent-nuclear-deal
Penjelasannya terstruktur rapi dan alur pembahasannya gampang banget dipahami buat orang awam. Mantap abis min! Bagi yang butuh referensi bacaan tambahan, silakan kunjungi https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320375528_htm
Bagus banget artikelnya min, bener-bener ngebuka sudut pandang baru hari ini. Sukses terus ya! Sebagai tambahan bahan bacaan pendukung yang relevan, temen-temen bisa coba intip link https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297632294_htm
Bagus banget artikelnya min, bener-bener ngebuka sudut pandang baru hari ini. Sukses terus ya! Sebagai tambahan bahan bacaan pendukung yang relevan, temen-temen bisa coba intip link https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297368049_htm