Cetak Rekor Baru, ‘Matahari Buatan’ China Siap Hasilkan Listrik 2030

Jakarta, nondepositbingo Indonesia

Proyek reaktor fusi

Experimental Advanced Superconducting Tokamak

(EAST) atau

‘Matahari buatan’

yang dikerjakan

China

, mencetak rekor baru lagi. Proyek ini ditargetkan dapat menghasilkan listrik pada 2030.

Dua magnet superkonduktor buatan dalam negeri yang dirancang untuk reaktor fusi dilaporkan sudah lolos uji teknis dan pengujian beban penuh. Alat eksperimen fusi ini dijadwalkan rampung pada akhir tahun 2027, dengan target demonstrasi listrik berbasis fusi nuklir pertama di negara tersebut sekitar tahun 2030.

Menurut laporan China Central Television (CCTV), yang dikutip Global Times pada Minggu (5/7), mengungkap bahwa dua magnet superkondutor utama untuk Matahari buatan ini telah mencapai tahap akhir pengembangan dan pengujian parameter penuh. Pencapaian ini menandai lokalisasi menyeluruh atas semua teknologi inti dalam proyek tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Qin Jinggang, Wakil Direktur Institut Fisika Plasma di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (ASIPP), menyampaikan bahwa saat timnya ditunjuk untuk proyek ini enam tahun lalu, mereka diberi dua target, yakni meningkatkan performa dan menekan biaya.

Setelah enam tahun riset dan pengembangan, tim tidak hanya berhasil meningkatkan performa alat secara signifikan dan stabil, tapi juga mampu mendirikan seluruh rantai pasok serta peralatan produksi.

Biaya bahan superkondutor itu kini juga turun drastis. Menurut Qin, bahan yang dulunya berharga sekitar 400 yuan atau sekitar Rp1 juta per meter, kini harganya turun menjadi sekitar 100 yuan Rp267 ribu.

Kumparan yang baru diuji ini menunjukkan lompatan skala yang signifikan. Dibanding dengan desain sebelumnya, ukurannya jauh lebih besar dari segi berat, dimensi, maupun kapasitas penyimpanan energi. Berat satu kumparan melonjak dari 350 ton menjadi 580 ton.

Qin menjelaskan, hal ini membuka jalan bagi perangkat fusi yang mampu beroperasi pada tingkat energi yang jauh lebih tinggi.

Meski demikian, Qin mengingatkan bahwa keberhasilan lolos uji coba terbaru ini baru mencakup 80 persen dari seluruh perjalanan. Tantangan berikutnya adalah memasang kumparan tersebut ke dalam perangkat dan menguji stabilitas jangka panjang serta masa pakainya di bawah kondisi operasional yang sangat berat.

“Baru setelah lolos pengujian tersebut, kita bisa benar-benar mengeklaim telah sepenuhnya menguasai teknologi superkonduktor suhu tinggi,” ujar dia.

Proyek Matahari buatan ini sudah mencatatkan sejumlah rekor dalam perjalanannya. Pada Januari 2025, proyek ini berasil mempertahankan suhu plasma sebesar 100 juta derajat Celsius selama 1.066 detik, yang sekaligus memecahkan rekor dunia baru.

Terobosan terbaru pada magnet superkonduktor ini juga berhasil mengatasi salah satu hambatan paling menantang dalam jalur menuju pembangkit listrik fusi praktis, yang merupakan buah kerja keras lintas generasi para ilmuwan China sejak tahun 1980-an.

“Fusi nuklir tidak diragukan lagi adalah salah satu teknologi yang paling sulit untuk dikuasai. Namun, setelah puluhan tahun berproses, kami akhirnya mulai melihat titik terang. Target kami tetap tidak berubah: mendemonstrasikan produksi listrik pertama dari fusi nuklir sekitar tahun 2030,” ujar Qin.

(dmi)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video nondepositbingo]

Baca lagi: 12 Negara Bagian AS Gugat Merger Paramount-Warner Bros. Disetop

Baca lagi: 5 Kebiasaan Sehari-hari Orang Tua Ini Bisa Bikin Anak Percaya Diri

Baca lagi: KWP dan BNI Salurkan 2.000 Paket Alat Tulis Jelang Tahun Ajaran Baru

7 Responses

  1. Bahasannya sangat berbobot dan terstruktur dengan baik dari awal sampai akhir. Sukses terus untuk blognya! Kebetulan kemarin sempat baca ulasan sejenis yang detail di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320687135_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297577958_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297006400_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297065619_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297580690_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320295813_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320162897_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297143687_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320639210_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320376741_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320044416_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320487854_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320257185_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320271534_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296999715_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320468067_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320381965_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297177551_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297597217_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320249271_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297272788_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320466444_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297525704_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320500660_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320428627_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297027160_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320481427_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320478695_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297186806_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296891768_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297295043_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?pages-list

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: